Perkembangan Rumah Kuno dari Jawa

Perkembangan Rumah Kuno dari Jawa – Rumah joglo pertama kali dibangun oleh suku Jawa. Suku ini tinggal di Pulau Jawa bagian tengah dan timur, sebelum adanya pembagian wilayah seperti sekarang ini. Kebudayaan suku Jawa pada awalnya berpusat di Surakarta, namun setelah terjadinya Perjanjian Giyanti tahun 1755, pusat kebudayaan Jawa berpusat di dua tempat, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.


Joglo ialah sebuah rumah tradisional di Jawa Tengah  yang  merupakan  interpretasi arsitektur Jawa yang  mencerminkan ketenangan dan hadir di antara bangunan-bangunan yang beraneka ragam  di Pulau Jawa. Interpretasi ini memiliki ciri  pada  konstruksi bangunan yang kokoh dan memiliki karakteristik tersendiri pada masing-masing jenisnya dan bentuknya. Rumah adat joglo yang merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seninya yang bermutu memiliki nilai arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah yang sekaligus merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni bangunan tradisional.

Rumah kuno joglo umumnya hanya dimiliki oleh kalangan masyarakat yang kaya atau kalangan kerajaan, hal ini disebabkan karena untuk membangun rumah joglo membutuhkan bahan lebih banyak dan mahal ketimbang rumah bentuk lain. Masyarakat Jawa  jaman  dulu menganggap bahwa rumah joglo tidak boleh  dimiliki oleh sembarang orang, tapi hanya diperkenankan bagi kaum bangsawan, raja, dan pangeran, serta mereka yang terhormat dan terpandang. 

Rumah joglo biasanya mempunyai denah berbentuk bujur sangkar, dengan empat pokok tiang di tengah yang disebut saka guru, dan digunakan blandar bersusun yang disebut tumpangsari. Struktur tiang pada joglo yang seperti itu, selain sebagai penopang struktur utama rumah, juga sebagai tumpuan atap rumah agar atap rumah.  Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna simbolis bahwa pintu yang berada di tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan. Untuk membedakan status sosial pemilik rumah, kehadiran bentangan dan tiang penyangga dengan atap bersusun yang  biasanya dibiarkan menyerupai warna aslinya menjadi ciri khas dari kehadiran sebuah pendopo dalam rumah dengan gaya ini. 

Bila Anda tertarik ingin memiliki sebuah rumah kuno joglo yang dijual di Solo, Anda bisa mendapatkannya di sini. Di situs ini dijual sebuah Rumah Kanjengan Keraton yang dibangun sekitar tahun 1800-an Masehi. Lokasi berada di dalam Kota Solo, sangat strategis, kira-kira 1 km dari Keraton Kasunanan/Pura Mangkunegaran/Balai Kota Solo atau perjalanan naik motor sekitar 3-5 menit saja.